Daftar Blog Saya

Jumat, 22 Juni 2012

TEORI-TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


TEORI-TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


Ada beberapa teori belajar dan pembelajaran dalam dunia pendidikan, dimana setiap teori memiliki aspek penekanan yang berbeda dalam proses implikasinya. Teori-teori tersebut antara lain teori behavioristik, teori belajar kognitif, teori belajar kostruktivistik, teori belajar humanistik, teori belajar sibernetik, teori belajar sosial kultural dan teori kecerdasan ganda.

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN

Pengertian belajar menurut pandangan teori behavioristik, adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar jika ia telah menunjukan  perubahan tingkah laku.

Menurut teori ini, yang terpenting adalah masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau out put yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi diantara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan, karena tidak dapat diamati dan diukur. Yang hanya dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa saja yang diberikan guru (stimulus), dan apa yang dihasilkan siswa (respon), semuanya dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

Faktor lain yang dianggap penting dari teori behavioristik adalah faktor penguatan(reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bilah penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon akan tetap dikuatkan.

Tokoh-tokoh penting dalam teori behavioristik antara lain :
v  Torndike, meurutnya belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Teori Torndike ini disebut juga aliran koneksionisme (Connectionism)
v  Watson, menurutnya belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur.
v  Clark Hull, menurutnya belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun menurutnya setiap stimulus yang diberikan harus berhubungan dengan kebutuhan dan pemuasan biologis.
v  Edwin Guthrie, menurutnya belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, dimana stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan dan pemuasan bilogis. Dijelaskan bahwa hubungan antara stimulus dan respon cendrung hanya bersifat sementara. Oleh sebab itu dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat tetap.
v  Skinner, menurutnya belajar adalah hubungan antara stimulus dan respon  yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulakn perubahan tingkah laku. Dikatakan bahwa respon yang diberikan seseorang/siswa tidaklah sesederhana itu, sebab pada dasrnya stimulus-stimulus yang diberikan kepada seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara stimulus-stimulus tersebut akan mempengaruhi bentuk respon yang akan diberikan.

Pandangan teori behavioristik ini cukup lama dianut oleh para guru dan pendidik. Dari semua pendukung teori ini, teori Skinner lah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori-teori belajar behavioristik, seperti program-program pembelajaran  seperti Teaching machine, pembelajaran berprogram, modul dan program-program lainnya yang berpijak pada hubungan stimulus dan respon serta mementingkan faktor penguatan (reinforcement)

Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahw kegiatan belajar ditekankan sebagai aktivitas ”mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar. Jawaban yang benar menunjukan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.

TEORI BELAJAR KOGNITIF DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN

Pengertian belajar menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pemehaman, yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi teori ini adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang telah dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang. Teori kognitif lebih mementingkan proses belajar bukan pada hasil belajar.

Teori ini berpendapat bahwa belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Belajar merupakan aktifitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.

Dalam praktek-praktek pembelajaran, teori-teori kognitif antara lain tampak dalam rumusan-rumusan seperti ”tahap-tahap perkembangan” oleh J.Piaget, Advanced organizer oleh Ausebeel, pemahaman konsep oleh Brunner, hirarki belajar oleh Gagne, Webteaching oleh Norman dan sebagainya.




Diantara para pakar teori kognitif, paling tidak ada tiga yang terkenal yaitu:
  • J.Piaget, menurutnya kegiatan belajar terjadi sesuai dengan pola-pola perkembangan tertentu dan umur seseorang, serta melalui proses asimilasi, akomodasi dan equilibrasi. Tahap-tahap perkembangan itu adalah :
    • Tahap Sensorimotor (umur 0-2 tahun)
    • Tahap preoperasional (umur 2-7/8 tahun)
    • Tahap operasional konkret (umur 7/8-11/12 tahun)
    • Tahap operasional formal (umur 11/12-18 tahun)
Menurutnya , proses belajar akan terjadi jika melalui tahap-tahap asimilasi, akomodasi dan equilibrasi/penyeimbangan. Asimilasi merupakan proses pengintegrasian atau penyatuan informasi baruke dalam struktur kogniitif yang telah dimiliki oleh seseorang. Akomodasi merupakan proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru, sedangkan equilibrasi merupakan penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
o   Brunner,dengan teorinya free discovery learning mengatakan bahwa belajar terjadi lebih ditentukan oleh cara seseorang mengatur pesan/informasi, dan bukan ditentukan oleh umur. Menurut Brunner tahap perkembangan kognitif terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu:
§  Tahap Enaktif, seseorang melakukan aktifitas-aktivitas dalam upayanuntuk memahami lingkungan sekitarnya, artinya dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dsb.
§  Tahap Ikonik, seseorang memahami objek-objek/dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal, maksudnya dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan(tampil) dan perbandingan(komparasi).
§  Tahap Simbolik, seseorang telah mampuh memiliki ide-ide/gagasan-gagasan abstrak yang sangat mempengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika
o   Ausubel, menurutnya bahwa proses belajar terjadi jika seseorang mampuh mengasimilasikan pengetahuan yang yelah dimilikinya dengan pengetahuan baru. Proses belajar melalui tahap-tahap memperhatikan stimulus, memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami.

Salam kegiatan pembelajaran, keterlibatan siswa secara aktif amat diperhatikan. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. Materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola/logika tertentu, dari sederhana ke kompleks. Perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa.





TEORI BELAJAR KONTRUKTIVISTIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN

  1. Karakteristik Manusia Masa Depan yang Diharapkan.

Upaya membangun sumber daya manusia ditentukan oleh karakteristik manusia dan masyarakat masa depan yang dikehendaki. Karakteristik manusia masa depan yang dikehendaki adalah manusia-manusia yang memiliki kepekaan, kemandirian, bertanggung jawab terhadap resiko yang dalam mengambil keputusan, mengembangkan segenap aspek potensi melalui proses belajar yang terus menerus untuk menemukan diri sendiri dan menjadi diri sendiri yaitu suatu proses.....learn to be. Mampuh melakukan kolaborasi dalam memecahkan masalah yang luas dan kompleks nagi kelestarian dan kejayaan bangsanya (Raka Joni,1990).

Langkah strategis bagi perwujudan tujuan siatas adalah adanya layanan ahli kependidikan yang berhasil guna dan berdaya guna tinggi. Student Active learning atau pendekatan cara belajar siswa aktif di dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang mengakui sentralitas peranan siswa didalam proses belajar, adalah landasan yang kokoh bagi terbentuknya manusia-manusia masa depan yang diharapkan. Penerapan ajaran tut wuri handayani merupakan wujud nyata yang bermakna bagi manusia masa kini dalam rangka menjemput masa depan.

  1. Konstruksi Pengetahuan

Apa pengetahuan itu? Menurut pendekatan konstruktivistik, pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya.

  1. Proses Mengkonstruksi Pengetahuan

Von Galserfeld, mengemukakan bahwa ada beberapa cara/kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu:
§  Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengelaman
§  Kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan
§  Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada yang lainnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi  proses mengkonstruksi pengetahuan adalah konstruksi pengetahuan seseorang yang telah ada, dominan pengetahuan dan jaringan struktur kognitif yang dimilikinya.

Proses belajar aebagai suatu usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalaman melalui proses asimilasi dan akomodasi, akan membentuk suatu konstruksi pengetahuan yang menuju pada kemutakhiran struktur kognitif. Guru-guru konstruktivistik yang mengakui dan menghargai dorongan diri manusia/siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri, kegiatan pembelajaran yang dilakukannya akan diarahkan agar terjadi aktivitas konstruksi pengetahuan oleh siswa secara optimal.

Karakteristik pembelajaran yang dilakukannya adalah:
§  Membebaskan siswa dari belenggu kurikulum yang berisi fakta-fakta lepas yang sudah ditetapkan, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide-idenya secara lebih luas.
§  Menempatkan siswa sebagai kekuatan timbulnya interes, untuk membuat hubungan diantara ide-ide atau gagasannya, kemudian memformulasikan kembali ide-ide tersebut, serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
§  Guru bersama-sama siswa mengkaji pesan-pesan penting bahwa dunia adalah kompleks, dimana terdapat bermacam-macam pandangan tentang kebenaran yang datang dari berbagai interpretasi.
§  Guru mengakui bahwa proses belajar serta penilaiannya merupakan suatu usaha yang kompleks, sukar dipahami, tidak benar dan tidak mudah dikelolah.


TEORI BELAJAR HUMANISTIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN

Menurut teori humanistik tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia, oleh sebab itu teori belajar humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati kajian filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi, dari pada bidang kajian psikologi belajar. Proses belajar dianggap berhasil jika siswa telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain, siswa telah mampuh mencapai aktualisasi diri secara optimal. Teori humanistik cendrung bersifat elektik, maksudnya teori ini dapat memanfaatkan teori apa saja asal tujuannya tercapai.

Ada beberapa tokoh penganut aliran humanistik, diantaranya adalah:
  • Kolb, dengan konsepnya tentang empat tahap dalam belajar, yaitu : pengalaman konkret, pengalaman aktif dan reflektif, konseptualisasi dan eksperimentasi aktif.
  • Honey dan mumford, menggolongkan siswadalam belajar menjadi empat, yaitu; aktifis, reflektor, teoris dan pragmatis.
  • Hubermas, membedakan tiga macam atau tipe belajar, yaitu: belajar teknis, belajar pragtis dan belajar emansipatoris.
  • Bloom dan Krathwohl, dengan tiga kawasan tujuan belajar yaitu: kognitif, psikomotor dan afektif.
  • Ausubel, walaupun termasuk dalam aliran kognitifisme, ia terkenal dengan konsepnya belajar bermakna (Meaning Learning)

Aplikasi teori humanistik dalam proses pembelajaran cendrung mendorong siswa untuk berpikir induktif. Teori ini juga amat mementingkan faktor pengalaman dan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.



TEORI BELAJAR SIBERNETIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN

Teori belajar sebernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan ilmu informasi. Menurut teori belajar siberneti belajar adalah pemrosesan informasi. Teori ini lebih mementingkan sistem informasi dari pesan atau materi yang dipelajari. Bagaimana proses belajar akan berlangsung sangat ditentukan oleh sistem informasi dari pesan tersebut. Oleh sebab itu, teori sibernetik berasumsi bahwa tidak ada satu jenis pun cara belajar yang ideal untuk segalah situasi, sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi.

Teori ini telah dikembangkan oleh para penganutnya, antara lain seperti pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Gage dan Berliner, Biehler dan Snowman, Baine serta Tennyson.

Bahwa proses pengolahan imformasi dalam ingatan dimulai dari proses penyajian informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan informasi (storage), dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang disimpan dalam ingatan (retrieval). Ingatan terdiri dari struktur informasi yang terorganisasi dan proses penelusuran bergerak secara hirarkis, dari informasi yang paling umum dan inklusif ke informasi yang paling umum dan rinci, sampai informasi yang diinginkan diperoleh.

Konsepsi Landa dengan model pendekatannya yang disebut algoritmik dan heuristik mengatakan bahwa belajar algoritmik menuntut siswa untuk berpikir skematis, tahap demi tahap, linear, menuju pada target tujuan tertentu, sedangkan belajar heuristik menuntut siswa untuk berpikir devergen, menyebar ke beberapa target tujuan sekaligus.

Pask dan Scott membagi siswa menjadi tipe menyeluruh/wholist, dan tipe serial/serialist. Mereka mengatakan bahwa siswa yang bertipe wholist cendrung mempelajari sesuatu yang paling umum menuju ke hal-hal yang lebih khusus, sedangkan siswa yang bertipe serialist dalam berpikir akan menggunakan cara setahap demi setahap atau linear.

Aplikasi teori pengolahan informasi dalam pembelajaran antara lain dirumuskan dalam teori Gage dan Briggs yang mengekspresikan adanya:
  • Kapabilitas belajar
  • Pristiwa pembelajaran
  • Pengorganisasian/urutan pembelajaran.







TORI BELAJAR REVOLUSI SOSIOKULTURAL DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN

Aliran behavioristik yang banyak digunakan dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran selama ini kurang dapat menjawab masalah-masalah sosial. Pendekatan ini banyak di anut dalam praktek-praktek pendidikan dan pembelajaran mulai dari pendidikan yang rendah sampai pada tingkat yang paling tinggi, namun ternyata tidak dapat mampuh menjawab masalah-masalah dan tuntutan kehidupan global. Hasil pendidikan tidak mampuh menumbuhkembangkan anak-anak untuk lebih menghargai perbedaan dalam konteks sosial budaya yang beragam. Mereka kurang mampuh berpikir kreatif, kritis dan produktif, tidak mampuh mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan berkolaborasi serta pengelolaan diri.

Pendekatan kognitif dalam belajar dan pembelajaran yang ditokohi oleh Piaget yang kemudian berkembang ke dalam aliran konstruktivistik juga masih dirasakan kelemahannya. Teori ini bila dicermati ada beberapa aspek yang dipandang dapat menimbulkan implikasi kontraproduktif dalam kegiatan pembelajaran, karena lebih mencerminkan ideologi individualisme dan gaya belajar sokratik yang lazim dikaitkan dengan budaya barat. Pendekatan ini kurang ssesuai dengan tuntutan revolusi-sosiokultural yang berkembang akhir-akhir ini.

Pandangan yang dianggap lebih mampuh mengakomodasi tuntutan socicultural-revolution adalah teori belajar yang dikembangkan oleh Vygotsky. Dikemukakan bahwa peningkatan fungsi-fungsi mental seseorang terutama berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya, dan bukan sekedar dari individu itu sendiri. Teori Vygotsky sebenarnya lebih tepat disebut sebagai pendekatan ko-konstruktivisme.

Konsep-konsep penting dalam teorinya adalah genetic low of development, zona of proximal development, dan mediasi, mampuh membuktikan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial budaya dan sejarahnya. Perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang seturut dengan teori sociogenesis, dimensi kesadaran sosial bersifat primer sedangkan dimensi individual  bersifat sekunder.

Berdasarkan teori Vygotsky maka dalam kegiatan pembelajaran hendaknya anak memperoleh kesempatan yang luas untuk zona perkembangan proximalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang. Guru perlu menyediakan berbagai jenis dan tingkatan bantuan (helps/cognitive scaffolding) yang dapat menfasilitasi anak-anak agar mereka dapat memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Bantuan dapat dalam bentuk contoh, pedoman, bimbingan orang lain atau teman yang lebih kompoten. Bentuk-bentuk pembelajaran kooperativc-kolaboratif serta belajar kontekstual sangat tepat digunakan. Sedangkan anak yang telah mampuh belajar sendiri perlu di tingkatkan tuntutannya, sehingga tidak perlu menunggu anak yang berada dibawahnya. Dengan demikian diperlukan pemahaman yang tepat tentang  karakteristik siswa dan budayanya sehingga sebagai pijakan dalam pembelajaran.


TEORI KECERDASAN MAJEMUK (MULTYPLE INTELEGENCE) DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN

A.          TEORI KECERDASAN GANDA

Howard Gardner memperkenalkan dan sekaligus mempromosikan hasil penelitiannya yang berkaitan dengan kecerdasan ganda (Multyple Inteligences). Hasil penelitiannya menunjukan bahwa tidak ada satuan kegiatan manusia yang hanya menggunakan satu macam kecerdasan, melainkan semua kecerdasan bekerja sama sebagai satu kesatuan yang utuh dan terpadu.
Pokok pemikiran yang dikemukakan Gardner adalah :
  • Manusia mempunyai kemampuan meningkatkan dan memperkuat kecerdasan.
  • Kecerdasan selain dapat berubah dapat pula di ajarkan kepada orang lain.
  • Kecerdasan merupakan realitas yang majemuk yang muncul dibagian-bagian yang berbeda pada sistem otak atau pemikiran manusia.
  • Pada tingkat tertentu,kecedasan ini merupakan satu kesatuan yang utuh, artinya dalam memecahkan masalah atau tugas tertentu, seluruh macam kecerdasan bekerja bersama-sama, kompak dan terpadu.
Howard Gardner (1983) mengemukakan bahwa pada dasarnya manusia memiliki tujuh jenis kecerdasan dasar yaitu :
  • Kecerdasan bahasa/ verbal
  • Kecerdasan matematis logis
  • Kecerdasan spasial/ruang
  • Kecerdasan kinestetis jasmani
  • Kecerdasan musikal
  • Kecerdasan interpersonal
  • Kecerdasan intrapersonal
Tiga kegerdasan lagi yang muncul kemudian adalah :
  • Kecerdasan Naturalis
  • Kecerdasan Spiritual
  • Kecerdasan Eksistensial
1. Kecerdasan Bahasa.
Kecerdasan bahasa berisi kemampuan untuk berfikir dengan kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan arti yang kompleks. Contoh orang-orang yang memiliki kecerdasan bahasa yaitu : pengarang, penyair, wartawan, pembicara, pembaca berita, humor, berpikir simbolik. Kecerdasan ini dapat di perkuat dengan kegiatan-kegiatan berbahasa baik tulisan dan lisan.
2. Kecerdasan Matematik/logika
Kecerdasan logis matematis memungkinkan seseorang terampil dalam melakukan hitungan, penghitungan atau kuantifikasi, mengemukakan proposisi dan hipotesis dan melakukan  operasi matematis yang kompleks. Contoh – contoh orang yang memiliki kecerdasan matematis logis adalah ilmuwan, matematikawan, akuntan, insinyur, dan pemrogram computer. Kecerdasan ini diaktifkan bila seseorang mengahadapi masalah atau tantangan baru dan berusaha menyelesaikannya.
3. Kecerdasan Spasial/ruang.
Orang yang memiliki kecerdasan spasial adalah orang yang memiliki kapasitas dalam berfikir secara tiga  dimensi. Contoh – contoh orang yang memiliki kecerdasan spasial  adalah pelaut, pilot, pematung, pelukis dan arsitek. Kecerdasan spasial memungkinkan individu dapat mempersepsikan gambar-gambar baik internal maupun eksternal dan mengartikan atau mengkomunikasikan informasi grafis. Kuncinya adalah kemampuan indra pandang dan berimajinasi.
4. Kecerdasan Kinestetis Jasmani.
Kecerdasan kinestetik tubuh adalah kecerdasan yang memungkinkan seorang memanipulasi objek dan cakap melakukan aktivitas fisik. Contoh-contoh orang yang memiliki kecerdasan kinestetik yaitu atlet, penari, ahli bedah, dan pengrajin, pantomime dll
5. Kecerdasan Musikal.
Kecerdasan musikal dibuktikan dengan adanya rasa sensitif terhadap nada, melodi, irama musik. Orang-orang yang memilki kecerdasan musikal yang baik antara lain ; komposer, konduktor, musisi, kritikus musik, pembuat instrumen dan orang-orang sensitif terhadap unsur suara.
6. Kecerdasan Interpersonal.
Kecerdasan interpersonal adalah kapasitas yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat memahami dan dapat melakukan interaksi secara efektif dengan orang lain. Kecerdasan interpersonal akan dapat dilihat dari beberapa oranng seperti; guru yang sukses, pekerja sosial, aktor, politisi, pemuka agama. Saat ini orang mulai menyadari bahwa kecerdasan interpersonal merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh kesuksesan seseorang.
7. Kecerdasan Intrapersonal.
Kecerdasan intrapersonal diperlihatkan dalam bentuk kemampuan dalam membangun persepsi yang akurat tentang diri sendiri seperti perasaan, proses berpikir, refleksi diri, intuisi dan menggunakan kemampuan tersebut dalam membuat rencana dan mengarahkan orang lain.
8. Kecerdasan Naturalis.
Kecerdasan naturalis banyak dimiliki oleh pakar lingkungan. Seorang penduduk pedalaman dapat mengenali tanda-tanda akan terjadi perubahan lingkungan. Misalnya dengan mengamati gejala-gejala alam. Keahlian mengenali dan mengkategorikan spesies-flora dan fauna di lingkungannya. Para pecinta alam adalah contoh orang tergolong sebagai orang – orang yang memiliki kecerdasan ini.


9. Kecerdasan Spiritual.
Kecerdasan ini banyak dimiliki oleh para rohaniawan. Kecerdasan ini berkaitan dengan bagaimana manusia berhubungan dengan tuhan. Kecerdasan ini dapat dikembangkan pada setiap orng melalui pendidikan agama, kontemplasi kepercayaan, dan refleksi teologis.
10. kecerdasan Eksistensial.
Kecerdasan ini banyak dijumpai pada para filsuf. Mereka mampuh menyadari dan mengahayati dengan benar keberadaan dirinya dan apa tujuan hidupnya. Melalui kontemplasi dan refleksi diri kecerdasan ini dapat berkembang.
Gardner juga mengelompokkan ketujuh kecerdasan manusia menjadi tiga kelompok yaitu:
  • Kelompok kecerdasan yang terkait dengan objek (object related) noleh objek yang dihadapi.
  • Kelompok  kecerdasan bebas objek (object free) yaitu kelompok kecerdasan yang tidak dipengaruhi oleh objek, tapi dipengaruhi  oleh sistem bahasa dan musik yang didengar.
  • Kelompok kecerdasan yang dipengaruhi hubungan dengan orang lain (person related) yaitu kelompok yang bertalian dengan interksi dengan orang lain.
B.     KRITERIA KEABSAHAN MUNCULNYA TEORI KECERDASAN
·         Memiliki dasar biologis.
·         Bersifat universal bagi spesies manusia.
·         Nilai budaya suatu keterampilan.
·         Memiliki basis neurology.
·         Dapat dinyatakan dalam bentuk symbol.


C.    STRATEGI DASAR PEMBELAJARAN KECERDASAN GANDA
Ada beberapa straregi dasar dalam kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kecerdasan ganda yaitu :
·         Membangunkan/memicu kecerdasan, yaitu upaya untuk mengaktifkan indra dan menghidupkan kerja otak.
·         Memperkuat kecerdasan, yaitu dengan cara memberi latihan dan memperkuat kemampuan membangunkan kecerdasan.
·         Mengajarkan dengan/untuk kecerdasan, yaitu upaya-upaya mengembangkan struktur pelajaran yang mengacu pada penggunaan kecerdasan ganda.
·         Mentransfer kecerdasan, yaitu  usaha untuk memanfaatkan berbagai cara yang telah dilatih di kelas untuk memahami realitas diluar kelas atau pada lingkungan nyata.
D.    MENGEMBANGKAN KECERDASAN GANDA DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN
Sejumlah cara atau metode dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan – kemampuan individu. Setiap metode digunakan untuk meningkatkan jenis  kecerdasan yang spesifik yaitu:
  • Meningkatkan kecerdasan bahasa dapat dilakukana dengan cara mengadakan permainan merangkai kata, buatlah buku harian atau usahakan untuk menulis tentang apa saja yang ada dalam pikiran setiap harinya sebanyak 250 kata, dan sediakan waktu untuk bercerita secara teratur dengan keluarga atau sahabat.
  • Cara untuk meningkatkan kecerdasan spasial yaitu  seringlah berlatih permainan gambar tiga dimensi, puzzle, kubus, dan teka-teki visual lainnya, dekorasi ulang interior dan taman rumah, buatlah struktur benda dengan logo, atau bahan mainan tiga dimensi lainnya.
  • Meningkatkan kecerdasan matematis logis dapat dilakukan dengan cara berlatih menghitung soal-soal matematika sederhana di kepala ( berapa 21 X 40 dalam 5 detik), pelajari cara menggunakan sempoa, sering-seringlah mengisi teka-teki silang/asah otak lainnya.
  • Kecerdasan musikal dapat dilatih  dengan cara mengunjungi konser atau pertunjukan musik, bernyanyilah di kamar mandi atau di manapun yang memungkinkan untuk bersenandung, luangkan waktu selama satu jam setiap minggu untuk mendengarkan gaya musik yang tidak dikenal akrab (western, jazz, country, world music ,dll).
  • Meningkatkan kecerdasan kinestetik dapat dilakukan dengan carai bergabung dan berlatih berdsama dengan klub olahraga di lingkungan, pelajarilah kegiatan dansa, kumpulkanlah berbagai  macam benda yang memiliki beragam tekstur dan bentuknya khas, cobalah  kenali benda-benda tersebut dengan mata tertutup.
  • Cara atau metode yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal yaitu: belilah kotak kartu nama, penuhi dengan nama kontak bisnis, teman, kenalan, kerabat, dan orang lain, serta tetaplah menjalin hubungan dengan mereka; luangkan waktu selama 15 menit setiap hari untuk mempraktekkan mendengarkan secara aktif dengan pasangan hidup atau sahabat dekat; bekerjasamalah dengan satu orang atau lebih dalam sebuah proyek yang berdasarkan pada kesamaan minat (seni kain perca, pemain bass, penulisan artikel tentang pantai).
  • Meningkatkan kecerdasan intrapersonal dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : pilihlah tokoh favorit yang positif, dan baca serta jadikan mereka sebagai kawan imajinasi dalam memecahkan suatu permasalahan yang membutuhkan waktu pemahaman yang dalam, lakukanlah sesuatu yang menyenangkan diri sekurang-kurangnya sekali sehari, luangkan waktu sekitar sepuluh menit setiap sore hari untuk meninjau kembali secara mental berbagai macam perasaan dan gagasan yang dialami.
  • Metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan naturalis antara lain  peliharalah hewan favorit, tingkatkan frekuensi melihat acara-acara mengenai program flora dan fauna, (ini yang paling mudah) cobalah untuk menahan dari untuk tidak merusak  lingkungan, seperti mencorat-coret meja, menginjak rumput kantor, memetik bunga yang sedang tumbuh.
Tabel berikut (Tabel. 1.) menggambarkan tentang kecenderungan dan kegemaran dan  perilaku yang dapat dimati dan metode belajar yang dapat diterapkan untuk mengoptimalkan masing-masing kecerdasan.
Tabel. 1. Kecenderungan dan Metode Belajar yang dapat digunakan untuk meningkatkan Kecerdasan Ganda
JENIS KECERDASAN
KECENDERUNGAN /
KEGEMARAN
METODE BELAJAR
Bahasa / Verbal
Gemar :
-          membaca
-          Menulis
-          Bercerita
-          Bermain kata
Membaca, menulis, mendengar
Matematis Logis
Gemar :
-          bereksperimen
-          tanya jawab
-          menjawawab teka-teki
logis
Berhitung, aplikasi rumus, eksperimen
JENIS KECERDASAN
KECENDERUNGAN /
KEGEMARAN
METODE BELAJAR
Spasial
Gemar :
-          Mendesain
-          Menggambar
-          Berimajinasi
-          Membuat sketsa
Observasi, menggambar, mewarnai, membuat peta
Kinestetik tubuh
Gemar :
-          menari
-          berlari
-          melompat
-          meraba
-          memberi isyarat
Membangun, mempraktekan. menari, ekspresi
Musikall
Gemar :
-          bernyanyi
-          bersiul
-          bersenandung
Menyanyi, menghayati lagu, mamainkan instrumen musik
Interpersonal
Gemar :
-          memimpin
-          berorganisasi
-          bergaul
-          menjadi mediator
Kerjasama dan interaksi dengan orang lain
Intrapersonal
Gemar :
-          menyusun tujuan
-          meditasi
-          imajinasi
-          membuat rencana
-          merenung
Berfikir filosofi, analitis, berfikir reflektif
Naturalis
Gemar :
-          bermain dengan flora fauna
-          mengamati alam
-          menjaga lingkungan
Observasi alamdan mengidentifikasi karakteristik flora dan fauna

E.     FAKTOR-FAKTOR PENTING DALAM IMPLEMENTASI TEORI KECERDASAN GANDA
Implementasi teori kecerdasan ganda dalam aktivitas pembelajaran memerlukan dukungan komponen-komponen sistem persekolahan sebagai berikut :
  • Orang tua murid
  • Guru
  • Kurikulum dan fasilitas
  • Sistem penilaian
Komponen masyarakat, dalam hal ini orang tua murid, perlu memberikan dukungan yang optimal agar implementasi teori kecerdasan ganda di sekolah dapat berhasil. Orang tua, dalam konteks pengembangan kecerdasan ganda perlu memeberikan sedikit kebebasan pada anak mereka untuk dapat memilih kompetensi yang ingin dikembangkan sesuai dengan kecerdasan dan bakat yang mereka miliki.
Guru memegang peran yang sangat penting dalam implementasi teori kecerdasan ganda. Agar implementasi teori kecerdasan ganda dapat mencapai hasil seperti yang diinginkan ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu :
  • Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan individu siswa
  • Kemampuan mengajar dan memanfaatkan waktu mengajar secara proporsional.
Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan ganda yang dimiliki oleh siswa merupakan hal yang sangat penting. Faktor ini akan sangat menentukan dalam merencanakan proses belajar yang harus ditempuh oleh siswa. Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengenali kecerdasan spesifik yang dimiliki oleh siswa. Semakin dekat hubungan antara guru dengan siswa, maka akan semakin mudah bagi para guru untuk mengenali karakteristik dan tingkat kecerdasan siswa.
Setelah mengetahui kecerdasan setiap individu siswa, maka  langkah – langkah berikutnya adalah merancang kegiatan pembelajaran. Armstrong (2004) mengemukakan proporsi waktu yang dapat digunakan oleh guru dalam mengimplementasikan teori kecerdasan ganda yaitu :
  • 30 % pembelajaran langsung
  • 30 % belajar kooperatif
  • 30% belajar independent
Implementasi teori kecerdasan ganda membawa implikasi bahwa guru bukan lagi berperan sebagai sumber (resources), tapi harus lebih berperan sebagai manajer kegiatan pembelajaran. Dalam menerapkan teori kecerdasan ganda, sistem sekolah perlu menyediakan guru-guru yang kompeten dan mampu membawa anak mengembangkan potensi-potensi kecerdasan yang mereka miliki. Guru musik misalnya, selain mampu memainkan  instrumen musik, ia juga harus mampu mengajarkannya sehimgga dapat menjadi panutan yang baik bagi siswa yang memiliki kecerdasan musikal.
Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda juga perlu menyediakan fasilitas pendukung selain guru yang berkualitas. Fasilitas tersebut dapat digunakan oleh guru dan siswa dalam meningkatkan kecerdasan-kecerdasan yang spesifik.
Fasilitas dapat berbentuk media pembelajaran dan peralatan serta perlengkapan  pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda. Contoh fasilitas pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda antara lain : peralatan musik, peralatan olah raga dan media pembelajaran yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan spesifik.
Sistem penilaian yang diperlukan oleh sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda berbeda dengan sistem penilaian yang digunkan pada sekolah konvensional. Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda pada dasarnya berasumsi bahwa semua individu itu cerdas. Penilaian yang digunakan tidak berorientasi pada input dari proses pembelajaran tapi lebih berorientasi pada proses dan kemajuan (progress)  yang diperlihatkan oleh siswa dalam mempelajari suatu keterampilan yang spesifik. Metode penilaian yang cocok dengan sistem seperti ini adalah metode penilaian portofolio. Sistem penilaian portofolio menekankan pada perkembangan bertahap yang harus dilalui oleh siswa dalam mempelajari sebuah keterampilan atau pengetahuan.

Dihimpun dari berbagai sumber



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar